GUNUNG MAS – Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Tumbang Jalemu menggelar sosialisasi dan diskusi bersama World Wide Fund for Nature (WWF), didampingi Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kahayan Hulu, pada Rabu (21/10/2026), bertempat di Kantor Desa Tumbang Jalemu, Kecamatan Manuhing, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah.
Kegiatan tersebut menjadi ruang koordinasi dan diskusi untuk membahas arah pengembangan program LPHD, penguatan kelembagaan, serta potensi pengelolaan Hutan Desa yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan WWF, KPHP Kahayan Hulu, pengurus LPHD Tumbang Jalemu, perangkat Desa Tumbang Jalemu, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat.
Dalam pertemuan tersebut, LPHD Tumbang Jalemu memaparkan visi, misi, dan rencana program pengelolaan Hutan Desa yang telah disusun sebagai arah pengembangan kawasan ke depan.
LPHD memiliki visi mewujudkan Hutan Desa Tumbang Jalemu sebagai kawasan suaka budaya dan eko-edukasi terpadu berbasis kehidupan tradisional Suku Dayak Ngaju. Konsep tersebut diarahkan untuk menjaga kelestarian hutan, menghadirkan ruang nostalgia dan pemulihan alami (healing), sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Sejumlah program utama turut dipaparkan, meliputi pengembangan kawasan budaya tradisional Dayak Ngaju, wisata edukasi dan ekowisata, agrowisata berbasis komoditas unggulan, perlindungan ekosistem hutan dan sungai, serta penguatan kelembagaan dan kapasitas sumber daya manusia masyarakat lokal.
Salah satu gagasan yang menjadi perhatian adalah pengembangan pengalaman wisata berbasis kehidupan tradisional Dayak Ngaju melalui pondok hutan, aktivitas edukasi kearifan lokal, kuliner tradisional, serta kegiatan wisata alam di kawasan Hutan Desa.
Selain itu, LPHD juga merencanakan pengembangan kebun buah dan komoditas unggulan seperti durian, kopi, petai, kakao, dan jengkol pada ruang pemanfaatan. Upaya tersebut diharapkan dapat membuka peluang ekonomi masyarakat dengan tetap memperhatikan kelestarian kawasan hutan.
Ketua LPHD Tumbang Jalemu, Budi Lewie, menyampaikan bahwa upaya mempertahankan kawasan hutan yang masih tersisa merupakan tanggung jawab penting demi menjaga warisan alam bagi generasi mendatang.
“Walaupun kecil, setidaknya ini yang bisa kita pertahankan. Puluhan tahun ke depan, anak-anak kita mungkin hanya bisa mendengar cerita tentang hutan kita. Maka kami berharap melalui sosialisasi dan diskusi ini, Bapak-Ibu dari WWF dan KPHP bisa membantu kami mewujudkan visi dan misi kami,” ungkap Budi Lewie.
Pernyataan tersebut mencerminkan harapan LPHD agar pengelolaan Hutan Desa tidak hanya berorientasi pada pelestarian kawasan, tetapi juga memastikan nilai-nilai alam dan budaya tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menanggapi pemaparan tersebut, WWF menyampaikan rencana untuk mendampingi program dan pengembangan visi-misi LPHD Tumbang Jalemu. Rencana pendampingan ini diharapkan dapat mendukung penguatan kapasitas kelembagaan, pengembangan program, serta optimalisasi potensi Hutan Desa secara berkelanjutan.
Diskusi juga menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi kebutuhan, potensi, dan peluang sinergi antara LPHD, WWF, serta KPHP Kahayan Hulu dalam mendukung pengelolaan Perhutanan Sosial yang lebih optimal.
Melalui pertemuan ini, LPHD Tumbang Jalemu berharap terbangun kolaborasi yang dapat mendorong pengelolaan Hutan Desa tidak hanya berorientasi pada perlindungan ekosistem, tetapi juga pelestarian identitas budaya Dayak Ngaju dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ke depan, pengembangan Hutan Desa Tumbang Jalemu diharapkan dapat menjadi contoh pengelolaan kawasan berbasis masyarakat yang mampu menyelaraskan kepentingan konservasi, budaya, edukasi, dan ekonomi lokal.
